#MenataKata-3 : Sebuah Cerita

LARI ?

Kenapa harus Jogja? Kenapa tidak kota lainnya? Di Jogja ada apa?…
Adalah pertanyaan yang sering dilontarkan semua orang kepadaku kala itu, sampai saat ini pun ada beberapa orang yang masih menanyakan hal yang sama. Inti pertanyaannya sama, kenapa aku memilih Jogja.
Sebenarnya, alasan aku pilih Jogja bukan karena biaya hidupnya yang katanya murah, atau karena Jogja adalah kota pelajar. Biaya hidup di Jogja memang murah, biaya nongkrongnya yang mahal! Hahahaha. Ah, ya maksudku sama saja dimanapun kota pilihanmu biaya hidupnya pasti murah asalkan kamu bisa mengatur keuangan dengan baik. Toh kalau kamu nongkrong, jalan semuanya sama saja, mahal! Ya kan? Hehehehe.
Kalau waktu bisa kuputar mungkin aku tidak akan memilih Jogja, aku lebih cinta Bandung dengan segala kemacetan dan semua yang ada didalamnya. Loh kalau begitu kenapa pilih Jogja? Hahaha itu dia, Jogja ada ceritanya sendiri.
Jogja sangat asing bagiku, saking asingnya sampai aku tidak pernah sama sekali membayangkan untuk hidup di Jogja. Pun sekarang kenyataannya berbeda, aku malah melanjutkan studiku di Jogja, yang mengharuskan aku menetap di Jogja untuk beberapa tahun.
Anak remaja seringkali bertindak ceroboh dan semau mereka kan? Itulah yang terjadi kepada si bodoh ini. Saat itu aku mengalami masalah dalam percintaan. Sayang sekali, jalan keluar yang aku pilih bukan mengikhlaskan, tetapi memikirkan sampai membuatku sedih berkepanjangan. Saat itu aku berpikir aku harus lari dan menghindar agar bisa melupakan. Tapi ternyata sejauh apapun aku lari dia tetap mengikuti. Sayang sekali keputusan yang aku ambil ini bukan keputusan yang bisa aku ubah semauku, keputusan ini merupakan keputusan jangka panjang dimana aku harus menyelesaikan apa yang telah aku lakukan.
 Teruntuk kalian yang putus cinta, salah besar jika memilih untuk memikirkannya terus menerus, karena bisa berdampak kepada pengambilan keputusan untuk masa depan kalian. Aku berani menjamin, kalian akan menyesali kenapa pernah sedih sebegitunya. Hahahaha percaya padaku!. Bersedihlah secukupnya, bahagialah seterusnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SESEORANG YANG HIDUPNYA TIDAK MEMILIKI TARGET (?)

#MenataKata-6 : Sebuah Puisi

#MenataKata-5 : Sebuah Puisi