#AlenaAlindra-1: Jadi, Kita Ini Apa?

Jogja, siang itu pukul 11. Aku tengah duduk didepan laptopku sembari menikmati semangkok mie rebus yang baru saja kubuat. Tiba-tiba sebuah pesan muncul di layar ponsel.
"Le"
"Le kamu di kos gak?"
"Le"
"Alena Diah Setiadji".
Ah, kalian tau? kalau orang ini sudah spam chat dan mengetik namaku dengan lengkap, tandanya dia benar-benar serius membutuhkanku saat itu juga. Dengan enggan aku akhirnya aku menggerakan tanganku untuk menggapai ponselku yang jauh diujung kasur.
"iya" kubalas sekenanya.
"iya apa?"
"iya dikos. cepat kesini. Udah ya aku mau makan mie". balasku cepat.
Aku tak ingin waktu untuk menikmati mie rebusku berkurang.
Ah iya, namaku Alena Diah Setiadji, seorang mahasiswa tingkat akhir yang hobinya makan mie dan streaming film. Aku adalah mahasiswa rantau di Jogja. Ya, aku bukan warga asli Jogja. Oh iya, temanku yang senang merusuhiku itu namanya Alindra Putera, panggil Ali aja lah biar akrab. Ali ini warga asli Jogja, kalau saja kalian mau tau. Aku sering bertukar pesan dengan dia sejak kami di semester 3.
Entah berapa lama aku menunggu Ali datang, rasanya aku hampir putus asa saking lamanya. Akhirnya aku pun memutuskan untuk membaringkan badanku di lantai. Tiba-tiba ponselku berdering, saking kencangnya sampai kepalaku agak sedikit pusing.
"Le kamu ketiduran ya?!" tanya suara diujung telpon.
"iya!! kamu lama banget sialan" balasku setengah marah.
"yaudah maaf, ini aku udah didepan. kamu masih mau nerima aku kan?"
Aku langsung bangkit dan merapikan diri lalu keluar menemui Ali. Ketika aku membuka gerbang aku melihat dia sedang duduk diatas motor sambil memainkan ponsel.
"ngapain sih siang-siang gini?" tanyaku.
"ah ini, aku mau minta aplikasi yang kemarin diajarkan di kelas".
Otakku berputar, bagaimana bisa dia keluar siang-siang hanya untuk meminta aplikasi yang bisa saja tinggal ia download sendiri.
"aku sebenarnya ingin mengusirmu, tapi karena kamu udah disini tunggulah sebentar, aku ambilkan laptopku dulu".
Akupun meninggalkan dia di ruang tamu.
"makasih ya Le, aku pulang dulu ya" ujarnya.
"eh Li, kamu pulangnya lewat minimarket depan kampus ga? kalo iya aku numpang dong"
"aku mau beli buah sama bayar tiket kereta buat pulang" tambahku.
"Iya boleh" ujarnya.
Akhirnya kami sampai di minimarket.
"kamu kalo mau pulang ya pulang aja, aku nanti bisa pulang sendiri" ujarku.
"eh? kamu kan bareng aku kesininya" balasnya.
"iya, tapi kan aku cuma numpang, ga minta ditungguin, jadi kamu pulang aja". 
"gak, yuk aku tungguin. masa perginya bareng aku tapi pulangnya sendiri". 
Aku pasrah, dan menuruti keinginannya.
Bukan apa, aku sebenarnya takut ada teman yang melihat aku dan Ali sedang berdua. Ah, entah apa hubunganku dan Ali ini. Terkadang, aku merasa spesial, tapi terkadang aku merasa biasa saja. Benar-benar hubungan yang membingungkan. Kenapa aku berani berasumsi bahwa  aku merasa spesial? karena ada temanku yang pernah memergoki Ali diam-diam memperhatikanku ketika di kelas, dan itu terjadi lebih dari satu kali. Ada juga temanku yang pernah dikirimi Ali fotoku. Ah, aku selalu berusaha untuk biasa saja.
"udah belanjanya?" tanya ali.
"udah kok. kamu gak ada yang mau dibeli? kalo gak ada ayo pulang".                        Diperjalanan tiba-tiba aku bertanya 
"Li, kamu siang ini free ga?"
wow rasanya aku terdengar seperti akan mengajaknya berkencan.
"free kok, kenapa?".
"hmmm mau gak kamu anter aku ambil laundry? soalnya laundryanku banyak". Tiba-tiba Ali tertawa
"hahahahaha iya mau kok, kirain mau ngajak jalan".
"hah?! bukan!!!" jawabku kaget setengah malu.
"Li, kamu beneran gapapa bantu aku bawa laundryan?".
"iyaaaaaa gapapa, yaudah yuk ambil".
"haaaaaah... makasih ya! beneran deh kamu tuh pahlawanku banget!".
"Li, beneran gapapa? sebanyak ini loh".
"iya Alenaaaaaaa".
Aku pun naik ke motor dengan susah payah karena membawa tas laundry yang ukurannya sebesar dosa. Entah mengapa hari itu sikap Ali terlihat sangat manis. Kacau.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SESEORANG YANG HIDUPNYA TIDAK MEMILIKI TARGET (?)

#MenataKata-6 : Sebuah Puisi

#MenataKata-5 : Sebuah Puisi